“Eh,Din ! Idung kamu berdarah tuh!”, ujar tya , teman akrab Dinda, panik.
“Eh, iya-yah..., kok aku gak sadar?”, dinda mendongakkan kepalanya sambil melap hidungnya dengan sehelai tissue berharap darahnya tak mengucur lagi.
“ Emang suka mimisan kayak gitu yah?”, Tanya tya “ Akhir-akhir ini sih emang sering kayak gini, gak tau juga kenapa bisa kayak gini.”,jawab dinda , kemudian entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat pusing, seolah-olah ada batu besar yang menghantam kepalanya. Dinda pun mengerang kesakitan,
“Aaaaarggh..., sakit....”
“ Kamu kenapa, din ??”, lagi-lagi, tya terlihat panik melihat teman kesayangannya itu kesakitan.
“ Kepala gue...., kepala gue sakit banget......”, dinda menggenggam lengan tya, tak lama kemudian, dinda pingsan.
“Adek sering mimisan?”, tanya seorang lelaki dengan jas putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya.
“ Sebulan terakhir ini emang sering banget, dok.”, jawab dinda .
“ Sering pusing, sampai pingsan?”, tanya dokter itu lagi.
“ Pusing sih iya, tapi yang kemaren yang paling parah, sampai pingsan gitu.”
“ Hmm....”
“ Saya sakit apa, dok?” tanya dinda penasaran
“ Panggil orangtua kamu ke sini. Saya perlu bicara dengan mereka.”, ucap dokter dengan nada yang sangat misterius, membuat suasana semakin tegang.
“ Orangtua saya jarang banget pulang, kemaren aja berangkat ke luar kota , palingan sebulan lagi mereka baru balik. Dokter kasi tau saya aja...., emang saya sakit apaan sih dok??”, desak dinda , cemas. Perasaannya mulai galau.
“ Tapi ini berat untuk dihadapi sendiri, nak. Orangtua kamu harus ada di sini..., kita tunggu sampai orangtua kamu kembali, baru saya kasi tau hasil general check up kamu ini...”, ucap dokter
“ Apapun kenyataannya, saya bakalan tabah kok, dok! Saya penasaran sekali dengan hasilnya...”, dinda semakin mendesak, dokter kelihatan mendesah.
“ Hhhh..., baiklah kalau itu mau kamu. Hasil general check up kamu 3 hari yang lalu menunjukkan bahwa..., kamu terserang penyakit kanker darah..., leukemia stadium akhir..”, dinda terpanah, ia terlihat berusaha mencerna kata-kata yang baru diucapkan dokter tadi.
“Leukemia, dok...?”, ulang dinda , seolah tak percaya.
“ Iya, leukemia. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan bahwa kadar sel darah putih kamu lebih banyak daripada sel darah merah kamu. Jadi....”
“Dok.....,dokter pasti becanda kan...?”, dinda tergagap.
“ Sungguh saya tidak pernah berani untuk bercanda dengan hal-hal seserius ini.”
“ Tidak..., ini tidak nyata..., gue cuma mimpi....”, ujar dinda dengan suara yang bergetar. Dokter itu lalu menepuk-nepuk pundaknya.
“ Ini nyata, nak. Kamu yang sabar yah...., orangtua kamu mesti tau hal ini.”
“Mereka tak perlu tau,karena mereka memang gak mau tau...”, ucap dinda , lirih.
Sebulan telah berlalu. Dinda makin jarang ke sekolah. Tubuhnya mulai melemah. Botol-botol obat penghilang rasa sakit berjejer dengan angkuhnya di atas meja belajar dinda . Hari ini, dinda sedang beristirahat lagi di rumah karena rasa sakit kepalanya tak kunjung sembuh. Hari itu juga, ayah dan ibunya baru tiba dari perjalanan panjang mereka. Ibunya lalu masuk ke dalam kamarnya.
LAgUq
Minggu, 01 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar