“ Eh mama. Tumben pulang.”, ucap Dinda singkat.
“mama rindu banget ama kamu. Rasanya pengen ngelus-ngelus rambut kamu..”, ucap ibu Dinda lembut sambil duduk di pinggir ranjang kepunyaan Dinda .
“ Udahlah..., gak perlu peratiin Dinda . Dinda udah biasa dengan ketidakhadiran mama di samping Dinda .”, Dinda terdengar sinis. Ibunya kaget.
“ Kamu kok ngomong gitu sih, sayang...? Mama bener-bener rindu loh sama kamu....”, ibunya kini mulai mengusap-mengusap kepala Dinda , tapi Dinda lalu menepis tangan ibunya.
“ Gak usah sok perhatian.”, Dinda bangkit dari ranjangnya kemudian dengan terhuyung-huyung, ia lalu keluar dari kamarnya. Ibunya mengikuti dari belakang.
“ Kamu kok lemes banget? Kamu sakit yah?”, ujar ibunya dari belakang, Dinda cuma menggeleng sambil terus berjalan. Ketika sampai di ruang makan, ia lalu duduk dan minum segelas air.
“ Kamu sakit sayang...., tuh bibir kamu pucat banget....! Mama periksa yah?”, ibunya mulai menyentuh kening Fano. Fano lagi-lagi menepis tangan ibunya, kali ini dengan sangat kasar.
“ Udah Dinda bilang, gak usah sok perhatian!”, Dinda meneriaki ibunya, kemudian keluar dari rumahnya.
“Din..., kamu kenapa sih sayang....?”
“Papa..., Dinda kok aneh banget sih....?”, tanya ibu Dinda sambil memainkan anak rambutnya. Ia kini sedang menikmati waktu sore bersama suaminya.
“ Aneh gimana? Perasaan anak itu dari dulu aneh?”, jawab ayah Dinda sinis.
“ Papa sih yang suka kasar sama dia! Jadinya kayak gitu deh...”, ibu Dinda mulai terisak, ayah Dinda lalu terdiam. Koran yang sedari tadi ia baca ia letakkan di atas meja.
“ Dia yang gak mau berubah seperti yang papa mau! Buat apa anak kayak gitu dihalusin???”, ayah Dinda setengah berteriak, sang ibu lalu berlari masuk ke kamar dengan berlinangan air mata.
Papa cuma pengen Dinda seperti yang papa inginkan
“Papa boleh masuk?”, ayahnya muncul dari balik pintu kamar Dinda , Dinda mengangguk.
“ Kamu sakit?”, tanya ayahnya singkat. Dinda hanya menggeleng.
“ Kok gak sekolah?”, tanya ayahnya lagi.
“ Udah berapa hari papa gak liat kalender? Hari ini kan tanggal merah.”, ucap Dinda santai, ayahnya terlihat menahan emosinya.
“ Ya udah. Papa cuma mau pamit, hari ini papi berangkat keluar kota . . Kamu baik-baik yah di rumah.”, ucap Ayahnya, kemudian pergi dari kamarnya. Dinda lalu bangkit dan meraih segelas air di atas mejanya dan meminum beberapa pil. Tapi, entah kenapa tiba-tiba kepalanya sakit bukan kepalang, beberapa tetes darah mulai mengucur lagi dari hidungnya. Tak lama kemudian, ia ambruk.
Dinda tersadar, ia kini berada di sebuah kamar beraroma obat-obatan yang menyengat. Terdapat beberapa benda elektronik melengkapi ruangan dingin itu. Bi Iyem yang setia menunggu di sampingDinda , ikut terbangun ketika merasakan gerakan-gerakan Dinda .
“ Eh non dinda udah bangun....”, dinda tersenyum kaku.
“ Aku pingsannya berapa jam, bi?”, tanya Dinda dengan suara parau.
“ Waduh...., kata dokter bukan pingsan lagi! Tapi koma! Non dinda koma udah sebulan lamanya.”, Fano kaget, gue koma...?
“ Eh, Mama ama Papa pernah nelpon gak?”, bi Iyem menggeleng, Dinda tersenyum kecut.
“ Gak ada yang peduli ama gue, buat apa gue idup?”, bi Iyem Nampak bingung, ia tak tahu harus menanggapi kata-kata Dinda dengan cara apa.
Dinda akhirnya keluar dari rumah sakit, setelah menolak untuk menjalani kemoterapi yang memungkinkan untuk menyembuhkan penyakit ganas yang telah menggerogoti seluruh tubuhnya itu. Ia sudah capek hidup di dunia, ia ingin mati saja.
Ia menidurkan badannya yang sudah teramat lemah. Sepertinya ia benar-benar sudah siap untuk mati. Diraihnya hp kesayangannya kemudian memutar sebuah lagu. Tak lama kemudian, suara berat nan syahdu kepunyaan Gerard Way terdengar sangat sedih. Kelopak mata Dinda perlahan-lahan menutup, nyawanya seolah telah berada di kerongkongannya. Tak kurang beberapa detik, Dinda menghembuskan napas terakhirnya. Ia telah pergi, pergi tanpa kesan terakhir pada orangtuanya. Sungguh ironis...
“...That if you say goodbye today,I'd ask you to be true.....,cause the hardest part of this is leaving you....”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar